Mempersiapkan Zakki mengenal arti kata 'konsekuensi'

"Boleh Bunda ajak ngobrol?" tanyaku suatu pagi saat si kecil bangun tidur.
dia pun menganggukkan kepalanya, matanya bersinar menatapku.
"Bunda hari ini ada rapat di kemenag, bunda tidak bisa membawamu, jadi kakak punya dua pilihan, langsung ke nenek atau sekolah dulu?"
- ya, sudah hampir tiga minggu ini dia berhasil ikut dalam kegiatan pembelajaran di kelas meski belum sepenuhnya "hadir" bersama teman-temannya ketika kegiatan berlangsung -
"Aku sekolah dulu, Nda!"
"Deal! kakak memang hebat!"
kami tos dan bergulirlah kegiatan pagi hingga dia siap dengan seragam dan bekal, pun saya yang siap dengan amunisi kegiatan hari itu....
"Aku ikut bunda...."
tertegun, menatapnya bingung! lha, kemana janji pagi yang terucap?
"Aku ikut bunda...."
rengekan disertai tangisan.... lumer rasanya hatiku.
"Duduk! bunda mau ngobrol lagi, boleh?"
"Nggak mau! aku maunya ikut bundaaaa...."
-Menyiapkan mental menghadapi anak, hela nafas panjang, ambil posisi duduk di depannya yang lebih dulu nggelendot di kakiku dan....-
"Bunda minta maaf, tadi pagi kita sudah ngobrol. kakak bilangnya mau sekolah dulu, kan?"
"Aku ikut bundaaaa...."
"Kuasai perasaanmu, baru kita bicara. kalau belum bisa, bunda tunggu sampai kakak selesai menangis."
-sekuat tenaga ia berusaha menghentikan tangis dan mengusap airmatanya-
Kami duduk berhadapan, dalam hatiku perang, tetapi aku lebih ingin dia menjadi anak yang mandiri dan bisa membuat keputusan.
“Bunda minta maaf, pilihan kakak hanya dua, langsung ke nenek atau sekolah dulu? Nanti pulang sekolah diantar bu Feni ke nenek.”
“Lha, bunda?”
“Bunda harus ke kemenag, Nak!”
“Aku mau ikut bunda!”
“Boleh bunda tanya?”
“Apa?”
“Teman-teman kakak kalau sekolah sama ibunya gak?”
“Enggak!”
“Hari ini kakak sekolah seperti mereka, gak ada bunda ”
“Tapi aku maunya ikut bunda.”
Tersenyum, nada suaranya kembali agak normal. Perasaannya hampir dikuasai dengan baik.
“Kakak lihat varen?”
Dia mengangguk cepat.
“Kakak tahu ibunya dimana?”
Dia menggeleng.
“Ibunya di Bali!”
“Wah, jauh! Bali itu yang kita kesana naik pesawat ya, Nda?”
-bersyukur pernah ke bali bersamanya sehingga ia mengerti-
“Nangis nggak Varen kalau sekolah?”
Kembali dia menggeleng .
“kalau kakak sekolah, biasanya nangis nggak?”
“Enggak!”
“Laki-laki harus bisa menepati janjinya, pagi tadi kakak janji apa?”
“Sekolah!”
“Ayo bunda antar sekolah!”
Aku berdiri, meraih tangannya, menggandeng keluar rumah sambil meliriknya. Mulutnya maju mundur  sambil terus berjalan disampingku.
Setidaknya saat itu dia mengerti ada “konsekuensi” dari apa yang dia katakan….
-Ampuniku ya Alloh, jika belum mampu menjadi orangtua terbaik bagi anakku-