Siapa bilang saat kita mengerjakan sesuatu itu bisa langsung sekaligus? Selalu ada saat dimana kita harus betul-betul fokus, seperti yang ingin kubahas sekarang
Kemarin pas tutorial ada kuis. Nah, waktu kuis berlangsung seorang teman mendapatkan telepon dari anaknya.
Anaknya menangis karena di rumah tak ada siapa-siapa, dan mama harus quis.
"Maaf sayang, mama harus quiz...."
Dst.
Saat itu naluri emak saya berkata, mbok ya lari pulang dan bawa balik anaknya untuk kuliah.
Tapi tidak, sang Mama kembali duduk dan menyelesaikan quiznya.
Dan, tutornya pun tak menanggapi apa-apa.
Quiz kembali berlangsung, tapi memang sang Mama jadi terlihat gelisah. Biasanya ia selalu menjadi nomor wahid untuk setiap kegiatan, tampaknya kali ini ia kompromi.
Dicoleklah diriku, "Nomor lima jawabannya dong!"
Dengan baik kusebut halaman modul yang berisi jawaban yang dimaksud
Berlalulah kejadian itu, sampai hari ini saat diriku dikejar Dead Line yang harus lebih beressss gak pakai tetapi....
Maka segala daya dilaksanakan untuk menyelesaikannya termasuk mengungsikan aisyah untuk fokus dengan DL itu tadi, padahal kondisi aisyah sedang tak begitu fit, terus siapa coba yang harus menyelesaikan DL yang menjadi bagian dari mimpiku?
Melayanglah ingatanku pada beberapa masa saat masih kuliah. Saat ujian dan panggilan pulang datang. Sudah di depan pintu ruang ujian diriku balik kanan memilih pulang
Hasilnya?
Nilai E dan kekisruhan di rumah juga tak membaik meskipun diriku pulang
Memang benar kita takkan mampu melakukan banyak hal hanya dengan dua tangan
You know what i mean lah
See youuuu....



0 Komentar