PENANGANAN
ANAK BERKELAINAN
Study
kasus
“ANAK
RETARDASI MENTAL”
Tutor :
Siti Ruqoiyah, S.Ag
Disusun oleh :
Dewi Mora Rizkiana (824629066)
PROGRAM STRATA 1 (S1)
SEMESTER IV
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
(PAUD)
UNIVERSITAS TERBUKA
2015
Anak Berkebutuhan
Berkelainan
Pendahuluan
Keinginan untuk mewujudkan
anak yang matang dan cerdas adalah hal yang sangat dicita-citakan oleh seorang
pendidik atau pengasuh. Akan tetapi latar belakang dan situasi kondisi
anak-anak didik sangatlah beragam ketika memasuki sebuah gerbang pendidikan pra
sekolah yakni Pendidikan Anak Usia Dini. Keragaman itu juga termasuk pada
kelebihan dan kekurangan peserta didik. Oleh karena itu kita harus jeli melihat
ke-“unik”-an masing-masing anak didik kita dalam satu kelompok belajar.
Salah satu hal
mendasar yang harus dimiliki oleh seorang guru PAUD adalah kemampuan menangani
masalah perkembangan anak yang bersifat non normatif atau berkelainan, sehingga
pendidik dapat mengenali masalahnya berdasar ciri-ciri yang tampak, dan dapat
memberikan penanganan yang tepat terhadap masalah tersebut.
Prinsip
pendekatan perkembangan anak untuk melihat kelainan (non normatif) yang
diderita oleh anak, antara lain:
1. Kelainan muncul atau terjadi hanya pada individu yang mengalami
perkembangan
2.
Kelainan
perkembangan atau psikopatologi harus dipandang dalam kaitannya dengan
perkembangan yang normal, tugas-tugas perkembangan utama dan
perubahan-perubahan yang muncul sepanjang rentang kehidupan.
Psikopatologi => penyimpangan dari perilaku normal,
tugas-tugas perkembangan utama dan perubahan-perubahan yang muncul sepanjang
kehidupan.
3.
Tanda-tanda
awal dari perilaku berkelainan harus dipelajari secara serius.
4. Ada patokan atau karakteristik perkembangan baik yang
normal maupun berkelainan
Ada beberapa
pandangan yang muncul jika kita bicara mengenai apa yang disebut normal atau
tidak normal, antara lain yaitu:
1. Model Medis
ð
Menganggap
semua anak yang mengalami kelainan sebagai anak yang “sakit”
ð
Menganalogkan
dengan sakit fisik
ð
Berusaha
mencari penyebab dan memberikan treatmen yang sesuai
2.
Penyimpangan
dari rata-rata (Abnormality as Deviation
From The Average)
ð
Abnormal
= terpisah atau berbeda dari yang normal
ð
Menganggap
perilaku atau perasaan yang berbeda dari rata-rata adalah abnormal
ð
Mendefinisikan
kelainan dengan menggunakan model statistik sebagai rujukan
ð
Dikatakan
mengalami keterbelakangan mental jika anak memiliki tingkat intelegensi yang
menyimpang sekitar 2 simpang baku (standar
deviation) dibawah tingkat intelegensi rata-rata
3.
Penyimpangan
dari yang Ideal (Abnormality as Deviation
From The Ideal)
ð
Menentukan
kepribadian ideal
ð
Mengatakan
bahwa penyimpangan dari hal-hal ideal inilah yang abnormal
Fokus Permasalahan
Penyusun
memiliki seorang siswa yang menderita Retardasi Mental. Berdasarkan definisi
dari AAMR (American Association on Mental
Retardation) => Anak dengan keterbelakangan mental menunjukkan
keterlambatan di hampir seluruh fungsi akademik dan fungsi sosialnya. Dua ciri
utamanya adalah:
1. Memiliki taraf kecerdasan yang secara signifikan dibawah
rata-rata kecerdasan umum anak sebayanya (IQ < 70)
2. Tidak dikuasainya perilaku adaptif => perilaku yang
berkaitan dengan kegiatan harian
Tersebutlah
namanya Nia, dia lahir seperti anak pada umumnya. Namun seiring dengan waktu
tampaklah bahwa ia berbeda. Di awal masuk RA Baitul Mu`minin, Nia masih suka
‘ngiler’ yang cukup parah, suka mengganggu teman sampai temannya menangis,
seperti mengambil pensil teman, merebut mainan teman, melempar barang ke teman,
dan mencoret-coret hasil kerja temannya yang sudah selesai dikerjakan. Sehingga
tidak ada hari yang heboh tanpa Nia terlibat didalamnya.
Keterampilan
motorik yang dimiliki Nia juga jauh di belakang teman-temannya, seperti saat
menarik garis, hasilnya akan selalu berbentuk bulat seperti telor. Ketika
mewarna, warnanya akan selalu absurd. Ketika bermain, maka pekerjaannya adalah
membuat mainan teman berantakan.
Melihat hal itu,
maka penyusun berinisiatif mengajak bicara orangtua Nia (yakni Ibu). Dengan
cara halus kami meminta Ibundanya mendampingi anaknya saat berkegiatan bersama
dengan teman-temannya.
Diagnosis
Nia mengalami
gangguan dalam beberapa hal berikut, yaitu:
1. Kemampuan berkomunikasi yang terbatas, karena temannya
tidak faham apa yang sebenarnya Nia inginkan (bahkan termasuk bu guru).
2.
Kemampuan
bantu diri Nia cukup rendah, karena semua pekerjaannya tidak sesuai instruksi.
3.
Aktivitas
sosialnya membuat Nia menjadikan Nia sosok “Trouble
Maker”
4. Kemampuannya merawat diri sangat kurang, karena Nia masih
terus “ngiler”
Penanganan
Dengan berbekal
cinta yang dimiliki seorang guru terhadap siswanya, maka mulailah kami menyusun
strategi untuk mengajarkan Nia beradaptasi dengan lingkungannya.
1. Bermusyawarah dengan orantua Nia, bahwa Nia membutuhkan
pendamping saat kegiatan bersama dengan teman-temannya. Akhirnya solusi
didapatkan Bunda Nia sendiri yang akan menjadi pendampingnya selama berkegiatan
bersama teman-temannya.
2.
Meminta
orangtua menyediakan sapu tangan khusus untuk mengusap “iler” Nia yang kerap
membuat temannya jijik.
3.
Memberikan
tugas-tugas yang disesuaikan dengan kemampuan Nia.
4.
Mengajarkan
“empati” dengan mengajaknya melihat hasil perbuatannya ketika mengusili
temannya. Sehingga pelan namun pasti Nia belajar meminta maaf pada temannya.
5.
Mengajarkan
pelan-pelan bagaimana antri, bagaimana bersabar menunggu giliran sehingga tidak
langsung merebut dengan memberikan konsekuensi apa yang direbut diambil bu guru
dan Nia akan mendapatkannya terakhir setelah teman-teman.
6.
Memberikan
pujian dan penghargaan yang “khas” dan disukai Nia, sehingga Nia mengerti,
bahwa:
a.
Memberikan
“tos” telapak tangan dan jempol apabila Nia bersikap baik dan berusaha
menyelesaikan tugas dengan baik.
b.
Memberikan
kata sederhana dan positif, semisal: “Nia, senang?” atau “Nia Hebat” atau “Nia baik
hati” atau “Nia Pemaaf”, dan hal-hal positif lainnya.
c.
Ketika
dia melakukan hal jelek, maka bu guru tidak akan memberikan penghargaan itu.
d.
Hasilnya,
pelan namun pasti Nia pun berubah
Hasil Akhir Penanganan
Pada semester II
akhir ini, Nia telah mengerti beberapa hal sederhana :
1. Nia tidak lagi suka “ngiler” parah. Hanya sesekali.
2.
Jika
mengganggu teman Nia tidak akan mendapat penghargaan, maka Nia pun bersikap
baik pada teman. Hal itu menjadikan Nia lebih mudah diterima oleh teman-teman kelompoknya.
3.
Pekerjaannya
yang harus diselesaikan, bukan milik temannya.
4.
Ketika
berjumpa dengan guru, Nia suka melakukan pengulangan “salim” berkali-kali
sambil tersenyum tulus.
5. Nia mengerti saat temannya menangis karena ulahnya dia
akan mengulurkan tangan meminta maaf. Saat diberi sesuatu oleh teman dia akan
menganggukkan kepala dan bilang, “Acih....” (maksudnya terimakasih).
Kesimpulan
ð
Retardasi
mental adalah keterlambatan perkembangan di seluruh fungsi akademik dan fungsi
sosialnya.
ð
Lingkungan
yang mendukung akan membantu anak retardasi mental menjadi anak yang
kooperatif.
ð
Setiap
perubahan memerlukan proses, usaha, dan kerjasama.
ð
Maka
keyakinan bahwa cara-cara yang kita lakukan akan memberikan hasil positif
adalah setengah dari keberhasilan kita menangani keragaman anak didik kita di
sekolah. Semoga guru-guru hebat di tanah air kita akan melahirkan generasi
hebat di masa depan.




0 Komentar