Workshop Penulisan Bagi Guru RA Kabupaten Malang
(Kerjasama IGRA dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan da Anak-P2TP2A)
Senin, 5 Nopember 2018

Ditulis sepanjang acara dan diedit esok harinya
Teruslah berbahagia dengan kontribusimu yang tak seberapa

Pagi, jam 07.40 diantar suami menuju rumah Bu Iisyatir Rodhiyah Kepala RA AL-KARIM daerah Losawi Singosari untuk bersama-sama mengikuti acara workshop di Resto Prambanan Sari Kota Malang. Sampai di lokasi acara, kami datang hampir bersamaan (kita setelah mereka) bu Siti Munawaroh guru PNS yang bertugas di RA Al Khoiriyah Pakis dan Bu Endang Wahyuning selaku Kepala RA Insan Kamil yang juga akan mengikuti kegiatan yang sama. Menengok ke arah kiri ada Bunda Ary selaku ketua PD yang masih sibuk memeriksa mobilnya apakah sudah terkunci atau belum.

Menyapa beliau, menyapa Bu Muna dan Bu Yayuk. Kami pun mengikuti langkah-langkah tegas Bu Ary menuju lantai dua dimana acara akan dimulai.

Suasana lumayan rame, ada beberapa guru cantik yang sudah siap menghadap meja, kita pun mengisi presensi kehadiran, dan menyapa Mbak Hidayatis Syarifah selaku perwakilan dari Wajak, Hai Bun!

Setelah mendapatkan lokasi untuk duduk maka kami pun mengeluarkan pernak-pernik yang akan kami pakai untuk pertempuran (Ya, Life is a battle to be a winner from our laziness).

Sembari menunggu Bu Hikmah hadir, Mbak Rosi mengisi acara dengan berbagi pengetahuan tentang kegiatan beliau menulis setiap bulan di majalah AULIA milik Fatayat Jatim.

Saat Bu Hikmah tiba, acara pun segera dimulai dimana jam menunjukkan pukul 09.15 WIB

Dibuka pranata acara Bu Farida dan dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IGRA dengan dirijen Bu Maslichah

Sambutan pertama oleh Bu Ary selaku ketua PD yang mengharapkan bahwa Ilmu yang diperoleh jangan berhenti disini, namun juga dibagikan kepada teman-teman lain di wilayah masing-masing (Insyaalloh....)

Selanjutnya, Intrans mengenalkan diri yang dimotori oleh Pak Lutfi Jayadi (Founder MCW_Malang Corruption Watch yang menginduk ke ICW). Pssst..., tapi beliaunya hadir sebagai Koordinator Narsum.

Beliau bercerita bahwa suatu saat beliau mengantar putranya di Al-Fadholi dan saat itu mengajar tema binatang, beliau melihat bu guru menyalakan LCD dan terpampanglah gambar kodok yang dipersepsikan oleh anak-anak menjadi nama binatang yang bermacam-macam. Muncullah pertanyaan beliau apakah anak-anak hanya akan mendapatkan pengetahuan dari layar LCD? Memang, lebih baik bagi kita untuk mengenalkan secara langsung obyek yang diamati.

Melihat hal tersebut, terpampang jelas analisa beliau bahwa kelemahan kita sebagi bangsa Indonesia khususnya para guru adalah, “Kita tidak biasa mendokumentasikan apa-apa yang sudah kita lakukan sehingga apa yang sudah kita lakukan hanya berlalu begitu saja.”

Imam Al-Ghozali menulis dalam sebuah buku yang kurang lebih bunyinya, “Kalau kau bukan anak Raja, maka menulislah” agar kita diketahui dunia dan mengetahui dunia.

Hmmmm..., jadi ingat lahirnya Persahabatan Kupu dan Kupi juga lahir karena tekad itu, saya ingin diketahui dunia, nama saya tercatat dalam sejarah, dan lebih luar biasa lagi saat tulisan saya mampu menginspirasi kebaikan orang yang membacanya. Maka Bu guru, menulislah.

Sesi selanjutnya adalah sambutan dari Bu Hikmah Bafagih selaku Ketua P2TP2A yang  mengatakan bahwa dalam menulis itu dibutuhkan minat terlebih dahulu, setelah itu yang lain mengikuti.

Berbicara, mendengar, menyimak, dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh manusia dalam kehidupan sosialnya. Beliau juga menyatakan bahwa gelombang literasi yang luar biasa dipadukan potensi berupa kekayaan ilmiah yang kita miliki sebagai guru, dimana keunikan masing-masing anak. maka kekayaan itu berupa sejumlah anak yang kita didik. Sayangnya kekayaan itu tidak kita potret dengan baik.

Saat kita niatkan untuk menjadi baik, maka ada gelombang negatif yang menyerang kita. Maka sangat perlu bagi kita untuk terus meng-upgrade pengetahuan dan wawasan agar kita menjadi bijaksana. P2TP2A sering mengadakan kegiatan parenting dengan para pengampu pendidikan. Namun saat menyapa IGRA mereka memberikan nuansa lain.

Kenapa?

Guru RA terlalu sering mendapatkan materi parenting tentang pengasuhan anak, dan itu semua perlu ditingkatkan dengan kemampuan untuk menuliskan kembali dengan versi masing-masing dengan mengangkat lokalitas lembaga.

Bu Hikmah mengajak para Guru RA untuk menikmati hari ini, dan mengajak semuanya untuk menjadi guru yang menginspirasi bagi anak didiknya. Dan Workshop pun dinyatakan dibuka

Doa dipimpin oleh Bu Ning Huriyah

Acara pembukaan telah selesai, maka waktunya untuk belajar menulis bersama tim Intrans publishing.

Taraaa....
Berlokasi di Jl Merjosari Kota Malang kantor penerbit yang memiliki alamat di www.intranspublishing.com menerjunkan tim-nya untuk mengawal workshop penulisan.

Mas Fahri selaku moderator membuka workshop dengan mengenalkan selayang pandang intrans publishing. Dilanjutkan oleh Pak Sabil selaku narasumber yang mulai membangun mindset pentingnya menulis bagi guru RA (khususnya)

Buku adalah kontribusi kita terhadap keilmuan yang kita miliki. Buku tidak memiliki masa kadaluarsa, maka fungsi mencerdaskan manusia akan selalu jalan.

Kita selalu terlena dengan buku cetak ulang dan terjemahan yang seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan sosial budaya di Indonesia. Maka mindset yang terbentuk akan mengadopsi apa yang mengisi otak kita. Maka menjadi tugas kita untuk mengisi kebutuhan buku yang sesuai dengan psikologi bangsa Indonesia.

Tugas kita adalah menarasikan semua kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam proses pembelajaran, sehingga akan menjadi sebuah panduan bahan ajar.

Mengapa Menulis Buku
Tidak ada maknanya gelar yang terpampang jika tidak ada karya yang dikontribusikan untuk masyarakat.

Animo yang luar biasa dari para Guru RA dengan menggulirkan pertanyaan-pertanyaan yang bernas.
Bagaimana menjembatani BKS agar bisa diterima lebih luas oleh praktisi pendidikan?
Kalau ini pasti memerlukan waktu khusus untuk coaching lebih lanjut.
Apa bedanya artikel dan Essay?
Pada prinsipnya sama, bukan sebuah berita. Lebih pada apa uneg-uneg atau ide-ide kita dalam melihat segala sesuatu. Bisa juga keresahan kita melihat teman-teman di medsos dengan postingan yang sesungguhnya sangat personal.
Saat menulis essay maka diperlukan kutipan-kutipan yang mendukung
Artikel itu lebih pada sudut pandang personal kita
Memperkaya kosakata itu bagaimana caranya?
Bagaimana menjembatani teman-teman yang bisa menulis di kecamatan dan dikumpulkan?
Hampir semua pertanyaan dijawab dengan cukup memuaskan.

ISHOMA digelar saat menjelang Adzan Duhur. Makan yuuukkk.....
Sekalipun tak berselera makan, saya selalu ingat untuk mengisi amunisi, karena yang kita butuhkan adalah tenaga untuk fokus terhadap apa yang kita kerjakan.

Bu Hikmah Bafagih kembali menyapa guru RA saat menunggu sesi berikutnya memaparkan temuan-temuan P2TP2A akan kejadian-kejadian yang terjadi di sekeliling kita. Ada banyak kekerasan dalam Rumah tangga khususnya yang berhubungan dengan kasus pelecehan seksual. Fakta-fakta mencengangkan juga dibeber yang membuat hampir semua merasa perih melihat potret buram anak-anak yang terpapar pornografi.

Prinsip pendampingan P2TP2A adalah Ketahanan keluarga dan kepentingan terbaik korban, maka tak semua kasus yang ditangani berlanjut ke jalur hukum. Beliau juga berpesan agar kita selaku guru waspada terhadap anak didik kita, “Jangan pernah percaya pengamatan kita sebagai orang awam, curigai anak yang mengalami perubahan perilaku yang drastis dan dampingi mereka.”

Jadilah perempuan yang bikin nyaman di sekitar kita, dikangeni siapapun. Belajarlah berbagi, belajarlah ikhlas dan nyaman dengan orang lain yang luar biasa di sekitar kita.

Sepertinya waktu berlalu cukup menyenangkan sehingga waktu pulang pun tiba tanpa terasa. Nah, sekarang kontribusimu apa untuk anak Bangsa dalam menyongsong generasi emas Indonesia 2045?