Manusia selalu memiliki sisi baik dan sisi buruk yang saling tarik menarik. Dan kondisi keimanan saat ini ataupun nanti jelas naik turun tanpa mampu kita prediksi. Adakalanya hati ini sangat damai dan mudah berbaik hati kepada orang lain, karena segala hal disekitar kita berjalan dengan sangat kondusif.
Namun adakalanya hati terasa begitu sesak sehingga rasanya tak lagi mampu berfikir dan gelaplah mata menghalalkan segala cara memperoleh apa yang menjadi kebutuhan (lebih tepatnya keinginan) kita.
Dalam pesatnya zaman yang sangat materialistis saat ini, maka banyak orang bermuka baik yang sering memanfaatkan situasi. Celakanya yang menjadi sasaran adalah para guru TK/ RA/ KB dan PAUD di beberapa tempat yang membagikan ceritanya pada saya.
Ada yang datang baik-baik menawarkan pemenuhan sarana prasarana lembaga untuk pembelanjaan sesuai dengan juknis BOP, setelah terjadi dialog menarik antara lembaga dan orang tersebut. Maka lembaga memberikan uang muka yang kadang tak sedikit untuk ukuran sebuah lembaga kecil dengan operasional yang sangat terbatas. Alhasil lembaga menanggung kerugian materil dan immateril. Semoga mereka disadarkan dan diberi hidayah untuk menjadi pelaku kebaikan.
Ada yang datang dengan menawarkan merenovasi mainan dan menjadikannya lebih serbaguna dengan meminta uang muka, bahkan ada yang sudah dibreidel mainannya sehingga lembaga mengeluarkan uang untuk membayarnya, dan dia tak pernah kembali bersama uang yang dibawanya. Alhasil lembaga menderita kerugian dan berduka. Tega ya ada orang seperti itu?
Ada yang datang mengaku-ngaku dari kementerian dan lain sebagainya yang meminta ini dan itu serta menakut-nakuti lembaga sehingga lembaga mengeluarkan dana, namun tak ada juntrungannya sehingga menangislah lembaga tersebut kehilangan dana yang cukup lumayan bagi mereka.
Ada yang datang bertamu dan mengambil sejumlah barang berharga saat penghuni sekolah sedang lengah. Dan akhirnya sekali lagi lembaga menderita.
Sungguh tega manusia-manusia bermuka baik, yang juga pernah datang ke saya meski memberi luka tak seberapa namun sungguh mengajak pergi rasa percaya saya pada orang yang datang selanjutnya. Padahal curiga pada orang lain itu dilarang karena termasuk su'udhon, hanya saja bersikap waspada itu diperlukan untuk menjaga kebaikan diri kita dan lembaga kita.
Nah, bagaimana caranya agar kita tetap baik tanpa harus curiga namun tetap waspada? Ada beberapa tips yang harus diperhatikan teman-teman semua, yaitu:
1. Saat ada orang bertamu, sangatlah penting untuk meminta kartu identitasnya. Dicermati dengan seksama.
2. Pastikan mengisi buku tamu dan menyebutkan dengan jelas kepentingannya.
3. Ajak berfoto bersama sebagai bukti kehadirannya di lembaga
4. Ajak teman lain jika orangnya memaksa untuk menawarkan dagangannya/jasanya.
5. Bila dari instansi, pastikan ada surat tugas yang dibawanya, bila perlu minta salinan surat tugasnya.
6. Jangan tinggalkan tamu sendirian di kantor dengan barang-barang berharga disana,
7. Jangan pernah memberikan uang dalam pertemuan pertama (entah sebagai uang muka, apalagi untuk membayar barang yang tidak dibawanya).
8. Jangan percaya referensinya tanpa mengkonfirmasi terhadap nama yang dibawanya.
Paling aman, jangan menerima tamu selama jam pelajaran berlangsung kecuali memang dari dinas atau instansi terkait yang memang sudah mengkonfirmasi kedatangan mereka disertai dengan surat tugas sebelumnya. Lebih aman lagi, cek keabsahan tugas mereka secara online.
Nyesek rasanya melihat curhatan teman-teman yang berduka karena kehilangan apa yang dengan susah payah mereka dapatkan, dan mereka tetap harus mengganti sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka terhadap sebuah pengabdian.
Semoga Alloh memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat pada para pejuang kebaikan.



2 Komentar
Subhanallah, bagus sekali tulisannya, Bunda. Sangat bermanfaat. 😘
BalasHapusMaturnuwun, merasa miris kalau mendengar cerita teman-teman tentang peristiwa yang menimpa
HapusSemoga bisa menjadi pengingat