Alhamdulillah, diingatkan Facebook akan kenangan beberapa tahun kebelakang. Saat-saat membahagiakan ketika menandatangani Berita Acara Lomba Guru Prestasi 2015 di Jawa Timur.

Antara haru, bangga, dan tak menyangka (meski menginginkannya) bahwa Juara 1 Tingkat Raudlatul Athfal adalah saya, Dewi Mora Rizkiana berasal dari RA Baitul Mu'minin yang mungil di Dusun Biru Desa Gunungrejo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah....


Pada saat penyerahan hadiah saya mendapatkan asus Padfone S beserta dockingnya itu rasanya luar biasa, mau tau kenapa?

Beberapa hari sebelumnya mendapatkan kabar dari kemenag kalau kami (Saya, Pak Aziz, dan Pak soeylihat) akan mewakili Guru Madrasah untuk berlaga di Jawa Timur. Karena Makalah dan Portofolio yang dikirimkan telah lolos seleksi, alhamdulillah....

Maka berangkatlah kami di hari yang ditentukan, naik bis sendirian dan kami berjumpa di Bungurasih, kemudian bersama-sama menuju hotel untuk bertemu teman-teman dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Masuk ke dalam, kami check in sesuai dengan pasangan yang telah ditentukan

Pembukaan dimulai, melihat dan mengamati orang-orang keren itu rasanya kurang PD. Namun saat melihat hadiahnya, hati kecil saya berdoa, "Semoga saya mendapatkan hadiah tablet yang disiapkan panitia.

Alhamdulillah....
Dengan izin Allah saya mendapatkan tablet nya.

Kilas Balik Menjadi Guru RA Tahun 2006

Sebenarnya TMT awal sebagai guru anak usia dini saya mulai saat mengajar di KBIT (Kelompok Bermain Islam Terpadu Al Uswah Singosari), namun saya menjadi guru secara De Yure di RA Baitul Mu'minin Muslimat 17 mulai Tahun 2006.

Sekolah mungil kami mirip seperti kandang, dengan pagar bambu tinggi yang lebih tinggi dari orang dewasa, halaman mungil dan juga lantai kelas yang masih berupa srabatan semen dengan rumah semut atau rayap di pojok-pojok kelas.

Melihat keadaan seperti itu dan melihat lembaga teman-teman yang lain, ada rasa ingin berubah meniru mereka yang lebih baik. Sarana dan Prasarana tak seberapa, mainan yang hanya satu keranjang untuk anak-anak, boleh kan kalau dibilang miris.

Awalnya saya juga berfikir tak akan lama, saya akan pergi terbang bersama pangeran impian yang menjemput saya tinggal diistananya. Ahaha, ternyata sungguh Alloh luar biasa dengan rencana-rencanaNya.

Hmmm..., akan panjang cerita saya agaknya. Lain kali mawon di episode berikutnya.

2008

Saya sangat suka dengan dunia tulis menulis, maka saya pun suka online dan browsing. Suatu ketika saya menemukan sebuah informasi tentang guru prestasi madrasah. Saya berfikir kok saya belum pernah mendengar? saya baca juknisnya dengan teliti, mulailah saya menata portofolio saya untuk (entah suatu ketika) saya akan ikut berlaga didalamnya. Hehehe....

Pada dasarnya saya orang yang introvert (tertutup dalam banyak hal), namun saya tetap mengasah diri sekalipun semua dengan biaya sendiri. Hampir setiap ada workshop dan seminar pasti saya ikuti. Awalnya saya terlihat (merasa dilihat) aneh oleh lingkungan sekitar. Namun karena teman-teman saya di kota cukup kondusif, maka saya tetap bergerak dengan segenap daya upaya yang tak seberapa. Maturnuwun ngge teman-teman (yang entah kemana peredaran mereka semua kini), semoga Alloh karuniakan keberkahan dalam kehidupan njenengan semua, lahumul fatihah.

Bersyukur di penghujung tahun saat bayi kecil saya berusia sebulan saya memenangkan kejuaraan mendongeng tingkat Kabupaten yang menjadi titik balik kisah saya selanjutnya.

2009

Awalnya saya hanya ingin menulis sekali saja seumur hidup, saya paksa menulis buku persahabatan Kupu dan Kupi yang bukan karya baru, namun perpaduan segala pengetahuan yang saya punyai selama menjadi guru, dan sayangnya sekarang saya pahami bahwa konten buku itu sangat berat bagi anak usia dini. Ahaha.

1000 eksemplar dicetak, dan baru habis entah berapa tahun kemudian.

Disitulah saya mengerti bahwa networking itu sangat penting (Cerita lengkap dilain episode ya!).

2010

Mengikuti sebuah ajang keren inilah yang memanggil rasa tak puas saya akan ilmu pengetahuan tentang anak usia dini. "Teacher of The Year" yang diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga. Bersua dengan guru RA keren dari Ngajum yang juara 1 (Halo Bu Endah Wuryani 😍😍😍😍😍).

2011

Saya punya target mengikuti lomba untuk mengasah kemampuan saya. Karena saya tahu saya pemalas, dan hanya mau bergerak jika ada trigger (pemicu) yang memaksa saya untuk bekerja. Lomba-lomba online saya ikuti. Kemenangan atau kekalahan menjadi suatu hal yang biasa saya alami. Kemampuan mengolah rasa karena kalah terasah dari sini.

2012

Tropi kedua tingkat Kabupaten kembali saya dapatkan melalui Lomba Penemuan Sains untuk Guru. Alhamdulillah membawa saya ke Jawa Timur dan mendapatkan Juara 1 Jawa Timur pertama kali. Kaget, senang, takut, sedih, rasanya nano-nano (Kisahnya di episode lain ngge!)

2013

Saya yang selalu merasa kurang puas akan proses pembelajaran terus berkreasi membuat Alat Peraga Edukatif yang menurut saya akan disukai anak, cikal bakal "Bermain Huruf Hijaiyah dengan Monopoli"lahir.

Diikutkan lomba namun gagal karena syarat administrasi (Haha! Saya guru kelas RA bukan guru PAI)

2015

"Bu Dewi, ikut guru prestasi ya?" Kata Ibu Ketua PD IGRA Kabupaten Malang.
Seperti mimpi yang menjelma nyata, namun ada rasa takut merayap, lha saya sedang hamil dan juga kondisi saya yang masih kuliah, dan banyak masalah lainnya. Rasa ragu menyergap. Apakah saya ambil.

"Pokoknya tanggal 18 Agustus berkas yang diperlukan harus sudah sampai di Penma, ngge!"

Perintah halus yang saya iyakan, maka mulailah saya menyusun daur ulang cikal bakal "Bermain Huruf Hijaiyah dengan Monopoli" untuk disempurnakan. Jangan tanya berapa yang saya habiskan untuk mendaur ulang, jangan tanya pula apa yang harus saya korbankan untuk menyelesaikan apa yang sudah saya iyakan.

Beberapa hari berjibaku dengan mempelajari berkas-berkas yang harus saya presentasikan sekaligus saya pertahankan saat laga di Jawa Timur.

Nah, saat menegangkan tiba, saya harus berangkat ke Jawa Timur. Di bis saya sempat menangis, berangkat sendirian dalam kondisi hamil 5 bulan, sungguh rasanya nelangsa (hihihi!). Ketemu dengan kakaknya teman yang menyapa saya. Saya hapus airmata saya dan bertekad untuk memberikan yang terbaik yang saya punya. Bukankan ridlo suami dan anak saya sudah saya dapatkan untuk berangkat meraih mimpi saya.

Bertemu dengan para guru dari berbagai daerah yang hebat-hebat sungguh membuat ciut nyali saya. Namun saya punya kekuatan untuk terus bertahan, calon bayi mungil di rahim saya yang menjadi teman saya melewati semuanya. Rasa takut harus dikelola, bukan laga pertama saya, namun tetap saja membuat saya dag dig dug menunggu sebuah kesempatan untuk saya berlaga.

Mendengar cerita-cerita Pak Aziz dan Pak Soeliyhat yang keren-keren tentang beberapa orang yang keren-keren disekitaran saya membuat sempat gagal fokus. Maka saya memilih diam mendengarkan dan mengatur strategi untuk saya mempresentasikan makalah saya.

Waktu laga saya tiba, saya presentasikan "Bermain Huruf Hijaiyah dengan Permainan Monopoli" dengan baik (menurut saya, hehehe!). Menjawab pertanyaan para juri dengan baik, dan menutup presentasi dengan baik, Alhamdulillah....

Dan, saat pengumuman disebutkan juara satu demi satu nama saya tak ada sampai di Juara 2, saya kecewa sedikit namun paham kalau saya kalah dari banyak orang keren disekitar saya. Maka ketika doa kecil saya ingin mendapatkan tablet (permen ya, haha!) terwujud, sungguh hanya Alloh yang memungkinkan segalanya terjadi atas ijin-Nya.

Saya tak akan berhenti berkreasi, karena dengan hal itu saya bisa memaknai keberadaan saya di muka bumi. Maturnuwun untuk keluarga besar IGRA Kabupaten Malang wabil khusus Bunda Ari Wahyu Astuti, Bunda Siti Fatimah, yang tak henti memberi kesempatan saya menjadi pendidik yang lebih baik.

Maturnuwun untuk keluarga besar IGRA Singosari yang menjadikan saya seperti saat ini.
Maturnuwun untuk almamater saya sekaligus tempat saya mengabdi saat ini, RA Baitul Mu'minin Muslimat 17.

Tanpa kalian semua apalah saya, semoga tulisan curcol ini menginspirasi njenengan semua. Karena sesungguhnya njenengan semua lebih hebat dari saya. Mari terus berbenah menberikan pendidikan bermakna bagi anak untuk membentuk karakter pemimpin Indonesia di Masa Depan.

Berbahagialah menanam kebaikan sekalipun tidak kelihatan di permukaan. Lahumul fatihah....