Ngomong itu gampang, tinggal buka mulut dan keluarkan suara, keluarlah kalimat-kalimat yang menjadi perwakilan apa yang kita rasakan. Menjadi masalah tersendiri saat lontaran kalimat kita ternyata tak bisa diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Maka ujung-ujungnya adalah konflik sosial.
Hidup bukanlah dongeng, sekalipun kehidupan adalah sekumpulan kisah dan cerita dari para pelaku kehidupan dalam setiap episode yang dialaminya.
Jangan terjebak pada dongeng, karena dalam dongeng semua serba tiba-tiba. Mak Bedunduk, moro-moro onok. Sim salabim, abrakadabra, dan wuzzz! Tampaklah apa yang kita inginkan di depan mata. Hidup tidaklah sesederhana itu, hidup lebih rumit. Hidup butuh bahasa untuk saling memberi dan menerima informasi yang kita punya.
Cobalah bayangkan saat kita membaca sebuah cerita dan menemukan sebuah kalimat, "Tiba-tiba terlihat apa keinginan kita jatuh di depan mata, dan kita pun ternganga karena takjub."
Speechless, tanpa kata dan bahasa awam tak mampu menjabarkannya. Namun bahasa tubuh, bahasa yang membaca ekspresi akan memahaminya.
Bahasa, menjabarkan segenap informasi yang kita punya untuk dibagikan pada dunia. Termasuk pada saat ngomong tentang apa saja, pada siapa saja, dan sayangnya ngemong tak bisa dengan sembarangan ngomong. Saat tugas kita ngemong, maka ngomong kita harus dihati-hati, lebih teliti, juga dari hati ke hati.
Nah, tentang ngomong. Bahasa verbal yang dikuasai oleh banyak orang, bahasa universal yang semua orang bisa menyimak dan memahaminya. Menjadi sangat berbeda saat bukan lagi informasi yang kita sampaikan, saat kepentingan telah menjadi tujuan, seringkali kita lupa mengawal kesantunan dalam penyampaian.
Ngomong tinggal ngomong. Lupa jika saat ngomong pun kita tetap harus ngemong. Kemudian muncul pertanyaan, "Apa sih ngemong itu? Kenapa kita harus ngemong?"
Jangan jauh-jauh perginya ya. Begini, saat kita repot dengan segala hal dan peran kita. Tiba-tiba ada orang baik yang ikut merawat hati kita yang kadang mobat-mabit, suka tidak?
Atau memahami kerepotan kita dan ikut andil mengawal kerepotan kita hingga menjadi longgar dan hati pun bahagia.
Nah, ngemong semacam itu. Faham kan?
Kemudian ada yang bertanya, "Apa perlunya kita ngemong orang?"
Helloooo, saya ngomong itu bukan untuk ngemong orang lain, cukuplah kita mampu ngemong diri kita dulu. Nah, saat kita sudah "dong", baru ngomong, sehingga orang di sekitar kita juga ikut "dong"
Jadi, mari kita tinggalkan kebiasaan ngomong tanpa ngemong kita dulu. Semoga dengan demikian ke-"dong"-an kita bertambah, bukan kedongkolan yang tumpah ruah.
Selamat mencerna tulisan saya dengan bahagia, sampai jumpa ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤



0 Komentar