Semestinya, saya menuliskan cerita ini sejak lama, hehehe! Dan seperti biasa, saya butuh trigger untuk menggugah semangat saya menuliskannya. Wicha (Writing Challenge) adalah alasan bagi saya menggali kembali pengalaman yang sudah-sudah untuk dibagikan pada dunia. Halah, ngomong apa ya, hahaha!

Oke, baiklah!

Upgrading Anggota FLP di Jombang bertempat di Green Red Hotel Syariah. Godaan tersendiri buat saya dengan segala kesibukan dalam ragam peran yang diemban. Hanya saja kalau tidak ikut, tanggal tersebut saya kosong tak ada jadwal. Maka upgrade diri dan pengetahuan menjadi sebuah tujuan sekaligus tantangan.

Berdiskusi panjang dengan suami yang selalu punya banyak waktu dan tenaga yang dikorbankan untuk saya mengupgrade diri. Berangkatlah saya setelah pertemuan pertama walimurid baru di lembaga tempat saya melakukan pengabdian.

Naik Grab ke landungsari jam 10 pagi, setelahnya naik bis ke Jombang. Hmmm.... Sudah belasan tahun tidak menginjak bumi Jombang, padahal saat kuliah di Universitas Brawijaya hampir satu minggu sekali saya ke Jombang sambang adik lanang di Tebu Ireng dan adik perempuan di MASS Seblak Jombang.

Alhamdulillah, rasanya bakal menikmati kenangan masa lalu di sepanjang perjalanan.

Eh, sebelum cerita tentang upgrading FLP. Ada baiknya saya ceritakan dulu perjuangan saya sampai bisa menjadi anggota FLP, hehehe!

Perjuangan panjang belasan tahun juga. Kok bisa?

Buat saya, menulis itu butuh kepercayaan diri tingkat tinggi buat saya yang pemalunya setengah mati. Sudah pemalu, lebih suka menanti segala macam informasi tanpa mau mencari sendiri. Klop! Persis kura-kura dalam tempurung, cita-cita melompat tinggi tapi terus saja memilih sembunyi (apakah saya saja yang merasakannya?).

Mendengar FLP sejak lama, mengetahui keberadaannya juga sejak lama. 1997 saya menjadi mahasiwa di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Awal mula hijrah, mencoba menanggalkan kebodohan saya untuk menjadi orang yang lebih paham akan hal baik dan bisa menjalankan kebaikan.

Menulis bagi saya tetap sebuah tantangan tak berkesudahan, rasa malu bila tulisan saya terbaca, seakan orang-orang akan menguliti saya jika saya publikasikan tulisan tersebut. Hasilnya hanya beberapa buku diari serta kumpulan cerpen yang hanya dinikmati teman-teman dekat saya. Banyak yang menyarankan agar saya bergabung dengan komunitas semacam FLP. Tapi sungguh saya tak berdaya menghadapi rasa tak mampu yang sudah terlanjur menggejala.

Pernah sangat ingin mengikuti FLP dan main ke UIN (waktu itu FLP Basecamp-nya disana, entah tahun berapa 🤭). Saat sudah sampai di UIN, rasa malu menyergap, akhirnya saya balik badan kembali ke fakultas dengan membawa kekalahan karena tak berani bertanya.

Entah, tahun-tahun selama masa kuliah saya dipeluk rasa malu dan ketakutan. Masa-masa menjadi kepompong 🤣🤣🤣.

Sekitar tahun 2000 saya ikut seminar kepenulisan dengan pemateri Mbak HTR di Universitas Negeri Malang dengan membawa calon novel saya yang belum selesai.

Memberanikan diri bertanya, dan tekad untuk menyelesaikannya menguat. Tapi apalah saya di belantara kepenulisan sendirian, tak punya teman yang saling menguatkan. Akhirnya kembali melipir mencari rasa aman.(Alhamdulillah 2005 selesai, tapi belum publish sampai hari ini, hehehe!)

Setelah itu banyak sekali kesibukan yang membuat saya lupa dengan dunia tulis menulis meskipun sesekali saya masih posting tulisan di blog, mengirim karya untuk lomba, atau kadang berbagi kabar dengan sahabat pena.

Sampai 2018 saat mendengar ada OPREC FLP diantara kesibukan yang hampir selesai. Alhamdulillah kuliah S1 PAUD di UT selesai tinggal wisuda, Alhamdulillah pada akhirnya bisa mengikuti OPREC sampai dinyatakan lulus. Alhamdulillah yang panjaaaaang teman-teman.

Nah, kesibukan yang berkelindan diantara ragam amanah yang lebih dulu diiyakan, bisa menyelesaikan tantangan untuk menghadapi tantangan berikutnya pun mulai menuntut kelihaian mengatur strategi.

Maka, saat upgrading anggota FLP datang, saatnya merayakan kebahagiaan sebagai anggota baru yang sesungguhnya 🤣🤣🤣.

Jombang, aku datang....

Bernostalgia sepanjang perjalanan, mengingat pedih dan perihnya perjuangan. Mengingatinya membuat merinding sekaligus bersyukur. Sebanyak apapun kepedihan di masa lalu yang kita alami menjadikan alasan cukup kuat untuk kita tegak berdiri saat ini.

Sampai di terminal Jombang, naik ojek ke lokasi disambut panitia di tempat registrasi Dan ambil kunci kamar serta bersiap-siap untuk acara Pembukaan.

Sukaaaa, pembawa acaranya bergantian pakai dua bahasa, merasa asyik dengan tema yang diusung, "Membumikan Literasi, Membumikan adab berkehidupan."


Sesi 1

Setelah pembukaan selesai, saatnya mengikuti acara selanjutnya yang disampaikan oleh Mbak Afifah Afra yang memaparkan maksud dari "Membumikan Literasi, Membumikan adab berkehidupan."

Mbak Afifah menjelaskan penulis ada 2 tipe, yaitu:
1. Penulis yang berproses menghasilkan tulisan seperti melahirkan.
2. Penulis yang berproses menghasilkan tulisan seperti membuang kotoran.

Kedua tipe penulis sama-sama menghasilkan produk berupa tulisan,  namun "rasa" pada karya yang dihasilkan akan memiliki perbedaan.

Penulis yang bertanggungjawab seyogyanya memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Moral
2. Intelektual
3. Sosial

Ia tidak hidup di ruang hampa, dia lahir dan diciptakan sebagai satu pilar penting dalam perubahan yang lebih baik di masyarakat tempat dia berada. Maka, sudah seharusnya kita mengambil posisi sebagai orang yang terpanggil untuk membangun peradaban dengan karya-karya yang memberi arti.

Sesi Bunda Umi
Ketum FLP Jombang 

Bunda Umi memulai dengan kutipan kalimat, "Cinta Sepanjang Kata," dan mulai memaparkan bahwa hidup adalah perdagangan, dan perdagangan paling menguntungkan adalah berdagang dengan Alloh di jalan kebaikan.

Keadaan yang sangat memprihatinkan terjadi pada anak usia SD, SMP, SMA yang pada sebuah survei menunjukkan bahwa mereka membaca 0 buku per tahun karena yang dibaca sekitar 29 halaman.

Dan sedihnya lagi, buku bacaan mereka bukan buku-buku yang berkualitas. Pertarungan narasi baik dan buruk terus berkembang,  maka orang-orang yang memiliki mental literasi akan mengambil posisi sebagai "problem solver" di masyarakat. Mereka melihat "amanah" sebagai peluang untuk membangun peradaban.

Seorang problem solver dikaruniai kelebihan untuk menemukan masalah dan mencari solusi. Maka menjadi anggota FLP dengan mottonya Berbakti, Berkarya, Berarti juga memiliki keterpanggilan sebagai problem solver di lingkungan sekitarnya.

Demikian paparan Bunda Umi yang mampu saya tangkap. Rasa kantuk dan lelah yang menyergap membuat kami lelap dalam sekejap.


Day Two Seminar Penulisan Writepreneur dengan tema, "Menjadi Manusia Kaya dengan Menulis" disampaikan Oleh Bunda Sinta Yudisia

Insyaallah dituliskan di next chapter, see you....