Gernas Baku merupakan sebuah penguat dari upaya Lembaga kami yang mencanangkan banyak kegiatan literasi bagi anak didik dan orangtuanya. Salah satu dari upaya kami membudayakan literasi antara lain dengan mengadakan lomba bercerita, puisi, dan beberapa tahun ini Proyek besar Re-Create Buku dan Membuat buku sendiri dengan berbagai ragam tema. 


Setiap awal tahun ajaran pada saat pertemuan walimurid yang juga merupakan kesempatan mensosialisasikan program tahunan lembaga, maka salah satu program unggulan kami adalah membuat buku sendiri dari bahan bekas yang ada di rumah. Targetnya adalah anak suka buku dan bangga akan buku buatan mereka melalui proyek membuat buku yang dilombakan setiap menyambut hari ibu.

Bagaimana kisah ini bermula?

Keprihatinan akan kurangnya minat membaca buku di kalangan anak usia dini memaksa guru RA Baitul Mu'minin berinovasi agar minat baca anak meningkat. Kebanggaan anak akan sesuatu yang menjadi buatan mereka sendiri atau orang dekat mereka, kesukaan untuk saling pamer dan mengungguli satu sama lain saat mereka bercengkrama memaksa penulis menggodok sebuah cara agar semua rasa yang ada menjadi trigger mereka untuk mencintai buku.

Mulailah Proyek membuat buku pertama kali di Tahun 2015 digelar RA Baitul Mu'minin Muslimat 17. Bukan pekerjaan yang mudah untuk meyakinkan walimurid bahwa mereka bisa membuat buku sesuai ide mereka. Protes tiap hari terdengar, banyak walimurid yang keluar masuk kantor mempertanyakan program yang aneh tapi nyata, dan Sang Kepala Sekolah tetap kekeh dengan program "Proyek Membuat Buku Keluarga, Satu Anak Satu Buku".

Pertanyaan demi pertanyaan berhamburan, dan tak sedikit yang meragukan kemampuan mereka, dengan kesabarn menghadapi protes walimurid ditunjang kesadaran walimurid untuk belajar, maka di penghujung waktu pengumpulan buku, terlihat kumpulan buku yang luar biasa banyaknya dengan ragam tema dan juga ragam bahannya. LUAR BIASA! Ternyata walimurid bisa!

Foto dengan buku mereka, diikuti dengan lomba bercerita diantara walimurid menjadikan program peringatan hari ibu sesuatu yang dinanti namun cukup ditakuti.

Bagaimana Hasil Lomba Bukunya?

Tahun 2015 adalah titik balik untuk berjuang lebih baik, karena lembaga kami yang cantik sedang naik daun. Buku-buku unik yang terkumpul dengan ragam cerita berurai airmata diselingi airmata walimurid tertata rapi. Semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa, takjub tak percaya, namun kenyataannya mereka bisa.

Ragam tema yang ada, bahan untuk pembuatan buku, serta bagaimana mereka menyusun buku yang dibuatnya menjadi kajian menarik berikutnya. 

Kesungguhan, keuletan, dan fokus para walimurid menghasilkan produk buku yang beraneka ragam membuat anak-anak bangga membuka-buka buku tersebut dan menyebutkan bahwa buku itu miliknya, ia membantu mama menyusunnya. Ada rasa bangga, ada ragam cerita diantara mereka. Dan yang paling luar biasa adalah keinginan mereka membaca buku-buku yang ada.

Inspirasinya dari mana?

Penulis pernah mendengar di sebuah lembaga selalu meminta walimurid menyumbang buku saat anak-anak menjelang kelulusan sebagai kenang-kenangan bagi sekolah. Dan buku anak-anak termasuk buku mewah dan mahal bagi kantong kami yang ada di desa. Akhirnya mempelajari situasi kondisi, dan perekonomian walimurid dipilihlah kenang-kenangan itu berupa buku buatan mereka.

Bagaimana Kelanjutan dari Proyek Buku Berikutnya?

Keberhasilan tak selalu mengekor proyek membuat buku keluarga, namun jejak baiknya diikuti oleh teman-teman lembaga lain yang terinspirasi ide dan inovasi lembaga kami

Cara membuat buku sederhana bisa dilihat :

Dan tahun-tahun selanjutnya kami menggulirkan program yang sama dengan ragam hasil yang berbeda. Seperti tahun kemarin, tema Pop Up kami usung digandeng dengan memvideokan cara mempresentasikan, Kalau buku cerita bagaimana menceritakannya. Kalau buku tema khusus bagaimana menyajikannya pada anak-anak. Hasilnya bisa dilihat disini

Animo yang luar biasa. Alhamdulillah, semoga kami selalu istiqomah berbenah.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya....