Sebagai seorang perempuan dengan multiple choice peranan dalam banyak lini kehidupan bermasyarakat, pasti akan sering merasakan hal ini.
Saat harus pergi namun pekerjaan domestik belum 100% terpenuhi, saat harus menyelesaikan tugas sebagaimana mestinya, maka kita akan mengabaikan tugas lainnya.
Tapi hidup adalah skala prioritas yang harus dikerjakan saat ini, nanti, dan esok hari. Semua menunggu diselesaikan hingga paripurna. Dan sayangnya kita hanya bisa menentukan seberapa target kita menuju sempurna namun tak pernah tau bentuk sempurna itu seperti apa, sampai semua amanah kita benar-benar selesai dilaksanakan.
Hasilnya? Tetap saja kita menemukan banyak kekurangan disana sini. Bersyukur jika menjadi bahan evaluasi untuk kinerja terbaik kita berikutnya. Alih-alih evaluasi dan introspeksi diri, terkadang yang hadir adalah caci maki. Sudahlah amanah menghadirkan lelah, eh yang kita terima sumpah serapah. Sedih ya?
Seperti hari ini, hati gerimis mendengarkan aisyah menangis mau ikutan Bundanya ngisi acara di safari gemar membaca. Sementara ayahnya harus fokus menyelesaikan kandang agar segera bisa digunakan.
Bagi tugas! Lagi-lagi saya harus berterima kasih kepada para guru RA Baitul Mu'minin tempat saya mengabdi (jadi semakin kuat tanya dalam hati, apa sih sesungguhnya yang dimaksud dengan pengabdian? Semoga kapan-kapan bisa menuliskan curcol saya, ðŸ¤)
Para guru yang dengan ikhlas hati membantu saya mengawasi anak-anak terutama Aisyah. Semoga Alloh berikan balasan yang lebih baik dari kebaikan njenengan semua.
Part Of Journey
Perjalanan tetap harus diselesaikan dengan segenap permasalahan dan tantangannya. Maka saya memilih tetap bergerak diantara sekian banyak hal yang membuat hati gerimis karena amanah yang sudah tersenyum manis di depan mata.
Kenapa? Saya punya alasan kuat, antara lain:
1. Jika ada amanah yang menyapa kita, maka Alloh percaya kita bisa (meskipun kadang saya juga merasa, sudah letakkan saja)
2. Saat kita mengiyakan amanah, maka ujian pertama kita adalah seberapa sungguh-sungguh kita menunaikannya?
3. Saat ada yang meragukan kemampuan kita, itu adalah ujian kedua. Bagaimana kita menyikapinya?
4. Saat kita melaksanakan amanah benarkah niat kita hanya ibadah? Ujian ketiga bagi kita. Apakah kita tidak sedang mengais rupiah?
5. Saat amanah selesai, menjadi ujian kita berikutnya, ujian keempat. Apakah kita merasa bahwa kita yang memahamkan mereka? Riya' dan 'ujub pun menyergap kita.
6. Saat kembali ke habitat asal menjadi ujian kelima. Apakah kita bisa bersikap biasa-biasa saja untuk menjaga adab dan akhlak kita kepada sesama?
Dan, tahukah kalian? Semua akan habis saat kita niatkan semua karena Alloh, hanya Alloh. Ikhlas, berbalas tak berbalas, tuntas atau tak tuntas, semua akan menjadi hal biasa yang takkan menghalangi kinerja kita sebagai Hamba dari Sang Maha Sempurna.
Laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadhdholimiiin....
1 Komentar
Very goooood
BalasHapus