Kita tak pernah tau kenapa Alloh memberikan kita banyak ujian dan tantangan untuk diselesaikan hingga akhirnya kita menemukan "hikmah" dari setiap kejadian yang menyapa kita. Kenapa saya katakan menyapa? Saya suka merasa bahwa saat kita menyapa seseorang adakalanya orang yang kita sapa menyambut hangat, adakalanya malah melaknat. Tergantung suasana hatinya, hihi.

Maka saya menganalogikan takdir sebagai kejadian yang menyapa kita. Adakalanya kita menyambut hangat, namun tak jarang kita melaknat meskipun tidak berniat demikian. Halah ngomong opo to?

Seperti pagi ini, saat Alloh memberikan kesempatan bersua dengan orang-orang hebat yang terus mengabdikan dirinya di bidang pendidikan dengan segala keterbatasan yang ada. Hmmm..., tak banyak orang yang mau, namun buktinya masih ada manusia yang peduli akan peradaban Indonesia di Masa Depan.

Jam 04.30 WIB ada bunda energik dari Tirtoyudo yang telah mengetuk pintu rumah kami, rekan sejawat yang akan bertugas bersama-sama hari ini ke daerah Pasuruan. Terkejut mendapati teman yang sangat menghargai waktu membuat saya harus segera bersiap-siap. Setengah jam kemudian, jam 05.00 WIB kami meluncur meninggalkan rumah dengan mengangkat Aisyah yang terpaksa dibangunkan dari tidurnya.

Mobil yang kami kendarai mengantarkan dua permata hati saya ke rumah salah satu guru senior di Lembaga saya yang biasa menjadi jujugan kedua anak saya, alhamdulillah meskipun ditingkahi sedikit tangisan Aisyah kami tetap harus meninggalkannya untuk melaksanakan tugas negara.

Menyusuri jalanan menuju RA Al Hasanudin di Dusun Randutengah Rebalas Grati Pasuruan lumayan menantang. Setelah menikmati perjalanan dipandu dengan kecanggihan teknologi komunikasi melalui berbagi lokasi di menu WA, maka kami sampai hampir tanpa kendala berarti. Suara mbak google lumayan membantu.

Bersua dengan wanita paruh baya bernama Faridah Afnani, S.PdI selaku Kepala RA Al Hasanudin beserta 2 orang gurunya yang bernama Bu Sami dan Bu Fatonah. Memulai pagi dengan diskusi-diskusi tentang keberadaan lembaga mereka di tengah-tengah masyarakat.

Setelah beramah-tamah seperlunya, kami pun menemui anak-anak yang sudah datang dan siap mengikuti pembelajaran hari itu. Anak-anak yang manis dan lucu satu persatu bersalaman, wajah-wajah surga tampak di wajah mereka, bau bedak bayi masih terasa wangi dan begitu khas. Hmmm....

Visitasi dilaksanakan mulai saat penyambutan sampai dengan pada saat anak-anak pulang. Maka 8 standar yang harus dipenuhi terutama standar 1, 3, 4 dan 5 akan terlihat mencolok pada saat pembelajaran berlangsung.

Meneliti satu demi satu, mencocokkan butir-butir yang sesuai dalam masing-masing standar dilaksanakan pada saat anak-anak telah kembali ke rumah masing-masing. Datanglah para punggawa IGRA daerah Grati yang menyambut kami dan kembali mendiskusikan beberapa kendala di lapangan bagi lembaga-lembaga yang akan dan telah divitasi, juga lembaga yang masih takut mengajukan akreditasi.

Setelah tugas mencari bukti penunjang standar 2, 6, 7, dan standar 8 dan beberapa kali wawancara. Maka visitasi kami selesai dilaksanakan. Waktunya berpamitan dan wefie sebagai bukti kami sudah visitasi di RA Al Hasanudin. Maturnuwun Bunda Munawaroh, Bunda Nurus, Bunda Alid. Sukses selalu menebar bahagia kepada sesama.


Memang pengabdian membutuhkan cinta tanpa syarat yang memberikan segalanya tanpa meminta imbalan. Dan segala cinta yang dibagikan pada para siswa adalah amunisi para guru untuk memantik dan menebar bahagia di hati sesama.

Pulanglah kami disambut kabar bahwa Aisyah mengikuti Bu guru senior kuliah di UNISMA yang sudah menginjak semester 5. Semangat ya Bu Saroh!


Untuk semua bentuk cinta yang menyapa kami dalam wajah yang beraneka warna, maturnuwun ya Alloh, lahumul fatihah