Me and My World
Perjalanan hidup tak pernah tahu akan menyampaikan kita kemana sebagai makhluk sekaligus hamba-Nya. Maka disinilah kita saat ini, dan terus berusaha untuk menemukan jejak kembali pulang pada pemilik kita yang sejati.
Hehehe, Jadi puitis karena ketemu sama teman-teman keren yang bakal "memaksa" saya kembali belajar dan belajar lagi. Maturnuwun saudari-saudariku yang selalu menginspirasi.
Baiklah, Saya hanya ingin berbagi bahwa tak ada yang tak mungkin jika Sang Maha Pembolak-balik hati mengijinkan sesuatu yang terjadi atas kita.
Contohnya saya. Lho, kenapa saya?
Karena saya yang dulu pemaluuuuuu bisa jadi seperti saat ini yang katanya orang sangat PE DE (Wow!).
Dimulai darimana yaaaa....
Oh iya, 2004
Saya mengajar KBIT AL USWAH Singosari (Perintis), karena setelah satu tahun merintis saya pernah meninggalkan dunia ke-PAUD-an untuk mencoba sesuatu sesuai ijazah saya FTP (tetap bersyukur karena dari sinilah pikiran dan "kesadaran" itu dibuka-Nya).
Awal mengajar (psssst, saya masuk kantor sebentar mbrebes mili antara takut, cemas, sekaligus berharap semoga saya bisa dan mampu melewatinya).
Selesai mengelola emosi, saya keluar menyapa riuh rendahnya suara anak kecil beserta mamanya. Hello mama, Don't you still remember me?
Saat perdana mengajar yang ada dipikira saya adalah mengatasi semua suara gaduh dan riuh itu dengan volume suara yang lebih dari mereka. Alhasil berhasil, dan hari pertama terlampaui dengan baik.
Next day, para mama mulai mundur di barisan belakang, anak-anak maju ke depan dan mulailah peran sebagai "guru" dengan ikhlas disematkan. Hanya disematkan saat itu hehehe!
Ada catatan menarik di awal mengajar yang saya share di buku "Storycake For Amazing Mom" bersama para emak yang ada di grup IIDN. Mulailah saya merasa "gerah" dengan tuntutan ortu kepada anaknya. Beban psikologis anak yang tak mampu mereka tentang kecuali dengan tangis ketidakmengertian.
Setelah itu, para santri itulah yang memaksa saya menjadi murid mereka tanpa mereka sadari. Banyak hal baru yang diajarkan mereka pada saya, bagaimana bersabar, ikhlas, dan tetap bersemangat meski harus merasakan radang tenggorokan berbulan-bulan hingga harus mengkonsumsi kencur yang dipotong kecil-kecil dan dikocok dengan garam.
Hingga datang seorang mahasiswa dari UT yang observasi. Saat itulah saya sadar menguasai anak tak perlu dengan volume tinggi, bahkan dengan bisik-bisik membuat mereka sangat tertarik pada kita.
Mulailah saya eksplorasi segala kemampuan saya yang "dulu" saya anggap saya tak bisa. Tumbuh semangat saya untuk belajar banyak hal baru, agar pembelajaran yang anak-anak terima bisa "nyantel" dalam memori mereka.
Bercerita sebelum pekerjaan atau tugas diberikan pada mereka. Mengantar kegiatan dengan tokoh anak-anak "Binti" yang merasa tak bisa melakukan tugasnya Setelah berusaha menjadi bisa. Ah, menanam semangat buat mereka menjadikan saya lebih bersemangat lagi, dan berangsur-angsur radang tenggorokan itupun menghilang. I did it! Saya senang menyandang gelar guru yang pertama kali hanya disematkan.
Ijazah FTP UB menari-nari mengajak saya untuk memenuhi panggilannya. Tepat satu tahun dan setelah ada pengganti guru saya keluar dari AL USWAH untuk memulai dunia saya.
Singkat cerita saat saya di sebuah Farm di daerah Karanganyar Jawa Tengah (Amanah Farm) bertemu kembali dengan anak-anak waktu mengisi outbond. Wah, this make me feel so bad! Kangen pada anak-anak. Tiga bulan berlalu, saya pulang dan kembali ke desa, memilih mendedikasikan diri pada dunia anak-anak di Lembaga tempat dimana pertama kali saya mengenal pendidikan. Ya, RA Baitul Mu'minin!
Kembali saya mengeksplorasi segenap kemampuan saya dengan pantang mengatakan "saya tidak bisa", setiap ada hal baru saya beranikan diri untuk "mencoba" (please deh! Saya tak punya background menjadi guru apalagi guru TK, wkwkwk)
Saya datang selalu dengan membawa boneka beruang saya, bercerita tentang tema yang akan disampaikan untuk membuat mereka tertarik dengan pekerjaan mereka, dan it works! Seminggu 2-3 kali saya isi cerita. Alhasil cerita saya selalu ditunggu.
2006
Mengabdikan diri full di RA Baitul Mu'minin (psssstt, tau tidak! HR guru saat itu 40rb! Per bulan lho, catat itu!). Meng-upgrade diri tak bisa dengan diam saja di lembaga, jika ingin bertambah ilmu tantanglah diri untuk ikut lomba. Maka mulailah saya menjajal lomba menggambar seri, lomba apa saja yang "memaksa" saya belajar tentang dunia anak-anak dan ke-PAUD-an.
Bersua dengan orang keren dan hebat memaksa saya membuka mata bahwa ada banyak hal yang harus saya pelajari untuk menjadikan sebuah pembelajaran bagi anak benar-benar bermakna.
Percepatan demi percepatan saya alami dengan ijin-Nya tentu saja. Dengan beragam cerca saya terima, dan juga kalimat-kalimat yang menghantarkan keraguan untuk saya. Saya tidak melawan kalimat itu, namun dalam hati saya azzamkan bahwa saya akan mematahkan kalimat itu dan merubahnya menjadi sebuah kemungkinan yang patut diperjuangkan.
Belajar dan belajar lagi, hingga saya merasa "This is my world, My passion, and I will dedicate my whole life here. You could never change someone else before you change yourself"
Kak Mora Berkisah
Bu Dewi Mora Rizkiana yang terus belajar
Semoga semua aktivitas kita memiliki "nilai" disisi-Nya, Amiiin...
See you on the next chapter
Maturnuwun emak-emak Blogger, love you all cause Alloh
16 Komentar
sukses terus mbaaak
BalasHapusMakasih
HapusAku dulu pengen jadi guru TK mbak, tapi gak kesampaian dn sepertinya harus kupikir ulang passion itu.
BalasHapusSekarang ngadepin anak sj, saya kurang sabar xixi
Semangaat mbk Mora :)
Makasih
HapusSemangat juga untuk mbak ivonie
Kerennnn!!
BalasHapuscerita Mbak.. mengingatkan saya pas jadi guru honorer jaman dulu.. hehehe..
BalasHapussukses untuk amanahnya Mbak Mora..
Perjuangan. Terus semangat.
BalasHapusAaah perjuangannya panjang ya mbak. Salut banget.
BalasHapusSemangat, mbak Dewi Mora! Suka dengan statement "menguasai anak tak perlu dengan volume tinggi." 👍👍👍
BalasHapusInsyallah berkah 😊
BalasHapusIya mba..dulu pernah jg ngajar di PG. Ngajar anak anak memang menyenangkan :)
BalasHapusKereen mbak. Menguasai anak tdk perlu dg nada tinggi, karna hanya dg cinta kita bs berbisik. Terima kasih tlah menularkan semangatnya mbak
BalasHapusJika ditekuni dan pantang menyerah, pasti bisa sukses mbak.
BalasHapusSaya dulu pertama ngajar juga maju mundur. Mahasiswanya anak orang kaya semua, semua dikelas pakai laptop. Lha, saya ini anak kampung, punya komputer juga nggak. Mengoperasikan komputer juga jarang, itupun tahunya cuma wordstar. Tapi kakak saya meyakinkan saya untuk terus maju. "Mereka mungkin unggul dalam harta, tapi kamu unggul dalam otak". Dan alhamdulillah masa itu terlewati dengan sukses
Maturnuwun semuanya
BalasHapusJadi semangat menulis lagi nih
keren mbak pilihannya, kerja sesuai passion :D
BalasHapusSalut sama guru guru PAUD... Energi kudu full dari pagi sampai siang, soalnya yg dihadapi anak anak yang ga punya capek....
BalasHapus