Dokumentasi pribadi, sekedar ilustrasi
Awal tahun 2006, saya mengajar di sebuah taman kanak- kanak (TK) di desa, lengkap dengan pernak- perniknya. Semangat juang saya sangat tinggi. Ada banyak hal ‘baru’ yang ingin saya kenalkan. Tak terbatas pada lingkungan yang itu- itu saja.
Menurut saya keterbatasan adalah tantangan, ketiadaan adalah upaya untuk meng-‘ada’-kan, dan mengajar sekaligus mengarahkan adalah lokomotif pendidikan, bukan sekedar stasiun ke-‘mandeg’-an sebuah pembiasaan yang dibiasakan.
Alhasil, satu semester penuh saya mengajar di bawah ‘pandangan’ selidik para wali murid. Kelas yang dipercayakan pada saya berubah jadi ‘heboh’ dan penuh hal- hal aneh yang tak sesuai dengan pandangan mereka.
Bagi saya, tawa ceria anak- anak adalah pertanda mereka merasa aman dan nyaman bersama saya. Kesalahan adalah proses belajar mereka untuk menuju perbaikan. Kenakalan adalah lading memperkenalkan sebuah etika pertemanan. Ketidakmampuan mereka adalah tantangan bagi mereka untuk menunjukkan eksistensi mereka. Menggali potensi anak- anak adalah hal yang paling menyenangkan.
Teguran demi teguran saya terima. Terkadang pedas, adakalanya asam. Namun ada juga yang pahit, hampir tak ada yang ‘paham’ dengan apa yang saya ingin lakukan.
Sarana prasarana yang kami miliki kelewat terbatas. Hampir tak ada mainan luar atau mainan dalam. Kardus bekas yang saya kumpulkan lewat anak- anak menjadi mainan yang cukup menyenangkan.
Suatu waktu, saya mengajarkan konsep menghitung dengan menyuruh anak- anak membawa dedaunan kering dari rumah. Sepuluh daun saja. Esoknya ada yang yang membawa lebih dari sepuluh. Ada yang kurang. Namun rata- rata, membawa lebih dari sepuluh.
Dengan telaten saya ajarkan mereka mengucapkan angka dengan memindahkan satu demi satu daun di plastik mereka ke atas meja. Jika ada yang kelebihan diberikan pada saya untuk dibagi pada teman yang kekurangan.
Mereka meniru dan mulailah saya berjalan dari satu meja ke meja lain untuk memeriksa hasil kerja mereka. Babak selanjutnya, dengan daun kering yang ada, ditambah benang wol, saya mengajak mereka meronce daun untuk dijadikan kalung, gelang, atau mahkota.
Tawa riang bermunculan. Kelas begitu gaduh. Waktu istirahat tiba, selesai berdoa anak- anak berhamburan keluar, sekedar bermain papan luncur di depan kelas atau jajan di warung dekat sekolah.
Saya masih di kelas waktu itu, sambil membereskan sisa pekerjaan anak- anak. Tiba- tiba seorang anak perempuan masuk dengan berleleran airmata. “Ada apa sayang?”
“Jare ibuk aku koyok wong gendeng!” ucapnya terbata.
Batin saya terpukul. Saya peluk dia dan berkata, “Nak, kreativitas bukanlah ke- gila-an. Tak ada batasan dalam kita berekreasi. Hanya saja ibu belum tahu maksud kita.”
Anak perempuan itu diam menatap saya. Secerah senyumnya timbul dan berkata, “Bu Guru, aku mau bikin lagi!”.
Saya mengiyakan dan mulai membantunya memilah daun kering yang tersisa. Oh ibu, tak adakah kata bijak untuk lebih baik menegur gurunya daripada mematahkan jiwa anak-anak yang masih butuh bimbingan?
Sadarlah para ibu, sadarlah para guru, tugas kita tak mudah, tapi kita akan menuai bagga jika anak-anak berhasil dalam ber’proses’ menjadi manusia seutuhnya.
(Sumber :Surya, 8 Januari 2009).
E-mail: mora_riz@yahoo.com
Sumber:
https://suaraguru.wordpress.com/2009/01/08/kreativitas-bukan-kegilaan/#more-22



1 Komentar
MasyaAllah tabaarakallaahu Bunda Dewi Mora Rizkiana
BalasHapus