| Pengalaman Membaca Karya HTR Membaca karya mbak helvy sebenarnya tak terlalu sering, ada ‘ketika mas gagah pergi’ adalah cerpen pertama mbak helvy yang saya baca, bagus, menyentuh, islami, dan penuh dengan pesan moral, pokoknya membaca karya mbak helvy seperti mengajak kita untuk terlibat bersama dengan cerita itu, penggambarannya yang sangat ‘nyata’ dan bobotnya yang dalem meski kesannya ‘ringan’ Pandangan dan Kritik terhadap karya – karya HTR Kalau memberikan pandangan dan kritik terhadap karya – karya mbak helvy saya merasa belum mampu karena saya ‘kurang menguasai’ dunia tulis menulis, namun kalau sekedar anggapan saya, mbak helvy sudah hebat menuliskan segala sesuatu dengan bahasa yang cukup ‘membumi’, mudah dimengerti oleh orang awam seperti saya seperti karyanya ‘segenggam gumam’, cukup membantu saya mengekspresikan diri lewat tulisan dengan membacanya. Pengaruh karya HTR terhadap penulis dan masyarakat
Satu yang paling ‘hebat’, sejak ada mbak helvy sepertinya dunia ‘kepenulisan’ Indonesia mengalami sebuah masa ‘keemasan’, banyak sekali penulis baru bermunculan. Kalau dulu karya sastra yang paling saya kenal adalah roman siti nurbaya dan juga sengsara membawa nikmat, sekarang begitu banyak macam ragam tulisan yang ‘luar biasa’ (saya juga ingin menyumbangkan sedikit kemampuan saya).
Saya pengen menjadi penulis seperti mbak helvy dengan gaya dan karakter saya sendiri, dan sudah saya mulai dari 2005, tinggal menunggu serta menjemput kesempatan agar kemampuan saya terus berkembang.
Kenangan yang berkesan terhadap HTR
07 Maret 2006 (inget banget soalnya dapet tanda tangan mbak HTR di buku segenggan gumam dengan note “nulis ya”) saya bertemu dengan mbak HTR saat mengisi sebuah acara di Universitas Negeri Malang, saat itu saya sempat maju dan bertanya pada mbak Helvy bagaimana cara menyelesaikan tulisan, saat itu saya masih dalam proses menyelesaikan novel pertama saya yang berjudul “Ketika Cinta Tak Harus Memilih” (Alhamdulillah sekarang sudah selesai, meski beberapa waktu lalu ditolak MIZAN).
Mbak helvy mungkin ingat juga saat melihat gaya saya memakai celana jins dengan rok jins se-lutut dengan jilbab modis, bahkan mbak helvy bilang, “saya bias bikin cerpen dengan karakter tokoh yang gaya berbusananya seperti anda….” (kuranglebih seperti itu, deu langsung mekar kepala seperti balon ditiup).
Akhirnya dengan susah payah juga novel saya selesai tahun itu juga, banyak teman yang baca, banyak pula yang komentar, tapi saya masih belum punya link ke penerbit.
Bagaimana pun terimakasih buat mbak Helvy yang membuat saya bersemangat menyelesaikan tulisan saya.
Hanya saja ada catatan yang saya ‘kurang suka’ dari pertemuan itu, saat itu saya memberikan booklet kecil yang saya buat dengan susah payah dengan alamat dan email lengkap, alhasil -mungkin karena sibuk- mbak helvy tak pernah menghubungi saya. (Kwek kwek kwek! Geer ya, mestinya saya yang susah payah untuk mencari alamat beliau, tapi mbak saat itu akses saya begitu terbatas, dan “malas”).
Saat itu saya ‘kurang PeDe’ dengan tulisan saya dan buruknya lagi saya belum mampu mengkomunikasikan dengan baik apa yang saya harapkan dengan memberikan booklet pada mbak helvy. Maaf ya mbak karena sempat kurang ‘respek’.
Inspirasi dari sosok dan karya HTR
Mengenal mbak Helvy, melihat senyumnya, orang – orang di sekelilingnya yang suka menulis, akhirnya tahun 2008 setelah memenangkan lomba mendongeng guru RA tingkat Kabupaten, saya mulai lebih PeDe untuk menulis cerita anak – anak dan Alhamdulillah dengan sedikit ‘ngoyo’ akhirnya saya bekerjasama dengan teman - teman berhasil menerbitkan secara indie juga menjualnya secara indie sebuah buku seri dongeng yang unik (menurut kacamata saya) untuk anak – anak, meski beredar mulai bulan oktober 2009, dan belum habis dari 1000 eksemplar masih terjual 400 eksemplar, saya dengan ‘berbangga hati berkata, “saya bisa mbak! Saya sudah menulis dan berusaha mempublishnya di kalangan umum”
Epilog
Apapun yang saya tulis disini hanya apa yang menjadi anggapan saya tentang mbak helvy secara umum karena saya ‘anggap’ belum terlalu mengenal mbak helvy secara pribadi, saya akan terus berjuang untuk menjadi penulis sesuai dengan idealism saya dan semoga mampu pula diserap ‘pasar’ pada akhirnya. Terimakasih buat mbak helvy yang telah menjadi inspirasi bagi saya dan rekan–rekan lain tentunya (Morariz79).
Pada akhirnya dia lahir setelah begitu lama
|



0 Komentar